Soal kemampuan jurnalistik, Pak Bos (Dahlan Iskan) dan DWO sama-sama
luar biasa. Sama-sama jago nulis. Kelebihan Pak Bos, rasa Pede-nya
sangat tinggi. DWO kebalikannya, suka minder. Saking mindernya, DWO pernah nyaris
ngompol saat ngajar menulis di sebuah acara workshop. Tapi, ssstt.....
ini rahasia lho...
Nopember 2011, DWO dan saya dapat undangan mengajar di acara Workshop
Menulis Ilmiah Populer dari Departemen Keuangan RI. Dalam undangan
tertulis: DWO jadi Pengajar, saya asisten Pengajar (istilah DWO, saya
tukang bawa Tas Umar Bakrie-nya).
Selasa,
15 Nopember 2011, acara workshop dibuka Kepala Pusdiklat BPPK Pancoran
(maaf namanya lupa. Saya hanya ingat jumlah isi amplopnya he he he.
Lagian, saat pembukaan dan penutupan saya tidak ikut), tepat jam 07.00.
Setelah itu, langsung masuk sesi materi. Jam pertama DWO yang ngisi.
Giliran saya jam 10.00.
Sekitar
jam 09.00, saya baru sampai lokasi workshop. Habis absen dan basa-basi, panitia mempersilahkan masuk ruangan. Agar tak
mengganggu, dengan sedikit mengendap-endap, saya pilih duduk di kursi
belakang agak pojok. DWO tak melihat saya datang. Dia nampak serius
menjelaskan 32 poin penting Teknik Menulis Ilmiah Populer.
“Ini
semua pelajaran dari Pak Bos, langsung. Aku punya catatan lengkap
semua pelajaran Pak Dahlan selama bertahun-tahun. Kalau dikumpulkan, ada
20-an bloknote,” katanya beberapa hari sebelum acara.
Maklum,
DWO termasuk kelompok perintis di Jawa Pos. Dia punya kesempatan
menimba ilmu langsung dari Pak Bos, sejak awal masuk pada 1984. Itu dua
tahun setelah Jawa Pos dibeli Tempo. Tapi saya patut bangga dan
bersyukur bisa jadi sohib DWO, karena sidikit-demi sedikit kecipratan
ilmu Pak Bos. Lebih bersyukur lagi manakala diseret DWO ikut nangani
INDOPOS saat awal berdiri (2003). Alhamdulillah, berkesempatan menimba
ilmu langsung dari Pak Bos.
Percaya tidak percaya, 32 poin
Teknik Menulis “Ala Pak Bos” itu adalah intisari ratusan buku soal
jurnalistik yang ada di pasar buku. Dalam catatan Perpustakaan Negara,
sekarang ada 520-an buku yang mengupas soal jurnalistik dan teknik
menulis. Saya pernah menyuruh DWO bertanya, berapa banyak diantara buku2
itu yang pernah dibaca Pak Bos. Itu saat saya masih jadi redaktur di
INDOPOS.
Bogor, 9 Mei 2012
Jawab DWO, “Yo takono dewe tho Jo, aku ra wani (ya tanya sendiri tho Jo, saya gak berani).”
Waduh! Kalau “anak kesayangan” Pak Bos saja gak berani, apalagi saya!
Kembali
ke arena workshop. Dari 32 poin itu, DWO menjelaskan 17 poin dalam dua
jam pertama. Sisanya jadi tugas saya pada dua jam berikutnya. Kata
DWO, dibagi “belah semangka” karena honor berdua sama tiap jamnya.
Berapa? Eeem.. pokoknya cukup buat beli mobil2an untuk anakku he he he.
Sejenak
mengamati suasana kelas DWO, terasa ada yang salah. Guru menulisku itu
terlihat bak pesakitan di ruang sidang. Dia dicerca berbagai macam
pertanyaan yang jauh melenceng dari topik. Harusnya fokus soal teknik
menulis. Kok malah ngalor-ngidul ngomongin media massa. Soal manajemen
beritalah, soal tajuk utamalah, soal leadlah dan lah lah yang lain.
Meski berakting tenang, saya tahu DWO dirundung galau. Sebagai sohib,
gelagat itu mudah terbaca.
Hingga dua jam pertama sesi pelajaran
DWO, suasana tak berubah. Penulis senior idolaku itu tetap jadi
bulan-bulanan. Ia harus menjawab banyak pertanyaan yang jauh dari topik
pelajaran. Pertanyaannya bertendensi ingin menggali lebih jauh tentang
siapa (sehebat apa) DWO.
Saya hitung, yang gencar mencerca
hanya satu dua orang. Yang lain pasif, hanya jadi penonton. Makin
kuamati, DWO terlihat makin galau. Saya pun ikut merasakan galau. Semua
berhenti setelah panitia memberi kode, jam pelajaran DWO habis.
Begitu
turun panggung, saya menghampiri DWO. Reaksi pertamanya, “Kon keturon
yo? Telat iki! (kamu ketiduran ya? Telat ini!),” serunya. Ini pertanda
perasaannya lagi gundah. Kalau tidak, ia pasti paham bahwa saya mengisi
materi jam 10.00. Wajar kalau datang jam 09.00.
Maka, langsung
saja saya tembak, “nervous ya?”. “Sumpah, kebelet nguyuh aku (sumpah,
gak tahan mau kencing aku),” jawabnya sambil memegangi sabuk celana,
lalu ngacir menuju kamar kecil, berlari seperti anak baru disunat.
Harusnya,
jam 10.00, giliran saya mengisi materi. Namun pihak panitia
menskorsing acara selama 15 menit untuk sarapan pagi. Ternyata, semua
peserta belum sarapan, karena katering terlambat. Bahkan ketika masuk
ruang sajian, menu sarapan juga belum lengkap. Di atas meja, yang ada
hanya kue dan minuman (kopi dan teh).
Saya berbaur dengan
peserta menikmati makanan yang ada. Sambil nguping, apa kesan peserta
terhadap sesi pertama DWO. Ternyata parah. Mereka sangat meremehkan
DWO. Mereka membandingkan kami dengan pengajar sebelumnya yang bertitel
Guru Besar (Profesor) dari perguruan tinggi ternama Tanah Air.
Komentarnya
membuat kuping saya merah. Hati saya membara. Sesekali terdengar ada yang
memuji-muji Jawa Pos lantaran kagum dengan sosok Pak Dahlan. Tapi itu
tak cukup menghibur hati.
Belum habis kopi seperempat, saya beringsut
keluar ruangan. Mencari-cari DWO, yang ternyata lagi asyik menikmati
sarapan di kantin. Rupanya, habis dikerjai peserta sampai mau ngompol,
langsung jadi lapar.
Saya lihat ia begitu “rakus” melahap nasi
soto ayam Lamongan kesukaannya. Saat saya datang, sepiring nasi sudah
tinggal dua-tiga sendok. Di sebelahnya masih ada sepiring nasi lagi.
Saya yakin akan nambah satu piring nasi lagi, baru stop.
TERTOLONG CERITA PAK DAHLAN
Sambil
tersenyum, kutinggalkan DWO. Dua menit lagi sesi pelajaran saya. Harus
buru-buru masuk kelas. Dalam hati, kubulatkan tekad untuk “balas
dendam” dalam ruangan. Kusiapkan strategi, menjadikan peserta workshop
layaknya “siswa” dalam pendidikan militer.
Kebetulan, dulu saya
sering jadi Pelatih Diklat Resimen Mahasiswa. Menundukkan mental siswa
adalah keahlian saya. Maka saat masuk, gaya berjalan pun saya buat
segagah Perwira Latihan. Sepatu khas tentara jenis PDH (Pakaian Dinas
Harian), sengaja saya hentakkan kuat-kuat. Hingga terdengar suara "brok brok" cukup keras. Hasilnya, peserta paling
depan pun menengokkan muka melihat saya berjalan sok cool menuju panggung.
Saya
yakin, sebagian besar peserta terus mengamati, saat saya menyiapkan
alat presentasi sendiri. Memasang laptop dan menyambungkan dengan
proyektor yang dianggurkan oleh DWO sebelumnya. Butuh waktu semenit
hingga materi (sebenarnya sudah beredar dalam bentuk print) muncul di
layar. Peserta melihat dan menunggu, saya cuek saja.
Begitu siap, saya ambil mic dan mengucap salam pembuka “SELAMAT PAGI!”, dengan suara
keras. Hasilnya refleks, semua menjawab dengan suara keras pula. Saya
tahu, mereka kaget. Semua peserta memandang saya. Kutatap mata mereka
setajam-tajamnya. Lalu, dengan nada sedikit sombong, saya bilang:
“Anda
semua layak berbangga, hari ini, Anda baru saja menerima ilmu dari
penulis terbaik Jawa Pos sepanjang sejarah. Itu bukan kata saya. Pak
Dahlan Iskan sendiri yang memberikan julukan itu. Bahkan beliau sempat
bilang kepadanya, saya kalah.”
Tak perlu menunggu lama, seorang
penggemar Pak Dahlan Iskan (namanya Muller Sagala), tiba-tiba bertepuk tangan. Yang lain
otomatis ikut. Kemeriahan mendadak tercipta dalam kelas workshop hari
itu.
Belum habis suara tepuk tangan, saya kembali bicara: “Jika
Anda penyuka dunia maya, coba ketik searching di google dengan mengetik
keyword: Djono W Oesman. Maka akan muncul namanya sebagai penulis buku
heboh, Memoar Soebandrio. Anda tahu, buku itu tidak pernah diterbitkan
oleh Gramedia, karena suatu hal. Tapi terjemahannya jadi best seller
di Belanda,” kata saya. Tepuk tengan riuh pun kembali menggema.
Seperti
ada Tangan yang mengatur, saya melihat DWO muncul dan masuk ke dalam
ruang kelas. Lalu saya sengaja menyapanya. “Selamat datang Putra
Kesayangan Pak Dahlan!” Semua peserta melihat ke belakang. Seorang
diantaranya (Athep Suhana) bahkan berdiri, lalu bertepuk tangan, seolah menyambut
kehadiran sosok idola yang berjalan di atas red carpet.
Ibarat
pertandingan, skor kami dan para peserta jadi 1:1. DWO yang dua jam
pertama seperti diremehkan, saat itu mendadak jadi idola dalam kelas.
Saya sendiri akhirnya lancar mengurai penjelasan soal teknik menulis
ilmiah, melanjutkan materi DWO. Sesekali saya sisipi cerita soal
perilaku Pak Bos di Jawa Pos, khususnya saat awal-awal penerbitan
INDOPOS.
Di sesi lanjutan, DWO pun mengajar dengan gayeng. Hingga jam pelajaran usai menjelang adzan asyar.
TERTOLONG “BAKSO NUMPLEG”
Rabu,
16 Nopember 2011, Gedung Rumah Pena, Jam 5.35. Bang Usman (BU) dan
Mario (Rio), saya lihat masih sibuk mendampingi Toyo (desain Layout).
Mingguan SYARIAH nyaris kelar, tinggal finishing cover. "Mas Jo, tolong
bikinkan superlead cover!" pinta BU, Pimpinan Umum Tabloid Syariah.
"Siaaap!" jawab saya.
Saya buka naskah laporan utama, soal
peradaran daging di pasar yang disinyalir dipotong tak sesuai syariah
Islam. Itu sedang disorot MUI. Sejenak saya putar otak. Lalu saya
dektekan dengan suara nyaring ke Toyo. Sengaja, biar dia gak ngantuk.
Gak sampai lima menit, kelar.
Sesudahnya, rasa kantuk gak bisa
saya tahan. Tiga kursi saya jajar buat alas tidur. "Rio, jam enam
bangunin aku ya?" pinta saya. Yunior saya ini hanya manggut2 dan
tersenyum dipaksakan. Saya sendiri gak dengan Rio. Tapi rasa kantuk sudah
akut. Rebahan beberapa detik, langsung terbang ke alam mimpi.
Kursi
tengah alas tidur bergeser, saya terkesiap, nyaris jatuh. Lihat jam di
handphone jadul, pukul enam lewat 5 menit. Sialan, Rio ngorok di kursi
depan komputernya. Buru2 pergi ke kamar mandi. Gubrak-gubruk ambil
peralatan mandi di jok motor yang terparkir di sebelah gedung. Turun
naik 4 lantai Rumah Pena membuat nafas tersengal. Gak peduli, buru2
mandi. Cuma setengah badan karena takut telat ngajar Workshop Menulis
Ilmiah Populer di Pusdiklat BPPK Pancoran.
Wah gawat, sudah jam
setengah tujuh lewat. Yamaha Mio Soul saya tancap tanpa sempat
dipanasi. Agak mbrebet, biar saja dipaksa berlari. Sialnya, pas jam macet2nya
jalanan Ibukota. Gak ada alternatif lain, harus sabar. Meski masuk ke
jalur "jalan tikus", hasilnya sama. Sampai lokasi workshop, sudah jam
8.25-an. Telat hampir setengah jam.
Panitia menyambut agak
gusar. Peserta lebih2 lagi, karena konsumsi pagi juga datang terlambat.
Meski gak enak, saya langsung membuka sesi pertama hari kedua. Tanpa
menunggu bantuan panitia, laptop saya nyalakan. Lalu saya hubungkan dengan
proyektor untuk mengaktifkan slide.
Layar terbuka. Sengaja saya
tampilkan tulisan ringan yang terpajang di halaman catatan facebook
berjudul "Bakso Numplek". Sengaja untuk memancing reaksi peserta. Benar
saja, beberapa terlihat senyam-senyum. Saya biarkan mereka membaca
sedikit tulisan tentang nostalgia masa SMA.
Wajah peserta mulai
ceria. Pikir saya, itu saatnya melanjutkan materi Menulis Esai dan
Opini. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Sesi praktek lebih lagi.
Saya sengaja menampilkan "jurus" khusus untuk mengundang perhatian
peserta. Praktek menulis dengan "permainan" sederhana.
Intinya,
praktek menulis diwakili peserta. Diantara peserta saya tunjuk jadi
"otak" dan "tangan". Peran "otak" memikirkan materi yang hendak
ditulis. Materi didiskusikan dengan seluruh peserta, dipimpin oleh
"otak". "Tangan", tugasnya menulis (naskah diketik dari laptopku yang
terhubung ke slide, hingga semua peserta melihat). Itu juga dipandu oleh
"otak". Khusus "otak", pemerannya berganti-ganti. Siapa yang punya ide
bagus untuk isi tulisan (topiknya di sepakati bersama terlebih dulu),
langsung tampil di depan, sebagai "otak".
Dengan "permainan"
ini, suasana workshop jadi hidup. Seluruh peserta seolah berlomba
mengungkapkan gagasan. Saat itu, mereka mengemas tulisan opini dengan
tema "Gaya Hidup Mewah Wakil Rakyat". Suasana diskusi sungguh seru.
Sayang,
saya tak sempat melihat akhir "permainan" itu. Bagaimana hasil
tulisannya, tidak tahu. Sebab harus buru2 ke bandara. Hari itu, saya
sudah booking tiket Lion Air Jakarta-Banjarmasin. Jam 15.05 takeoff.
Saya tak mau ketinggalan pesawat. Ada tugas mengumpulkan data untuk buku
Transmigran Sukses 2012, proyek Depnakertrans. Perkembangan acara
workshop terpantau dari cerita DWO via telepon di malam harinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar