Kamis, 10 Mei 2012

GURUKU NYARIS NGOMPOL SAAT NGAJAR

Soal kemampuan jurnalistik, Pak Bos (Dahlan Iskan) dan DWO sama-sama luar biasa. Sama-sama jago nulis. Kelebihan Pak Bos, rasa Pede-nya sangat tinggi. DWO kebalikannya, suka minder. Saking mindernya, DWO pernah nyaris ngompol saat ngajar menulis di sebuah acara workshop. Tapi, ssstt..... ini rahasia lho...

Nopember 2011, DWO dan saya dapat undangan mengajar di acara Workshop Menulis Ilmiah Populer dari Departemen Keuangan RI. Dalam undangan tertulis: DWO jadi Pengajar, saya asisten Pengajar (istilah DWO, saya tukang bawa Tas Umar Bakrie-nya).


Selasa, 15 Nopember 2011, acara workshop dibuka Kepala Pusdiklat BPPK Pancoran (maaf namanya lupa. Saya hanya ingat jumlah isi amplopnya he he he. Lagian, saat pembukaan dan penutupan saya tidak ikut), tepat jam 07.00. Setelah itu, langsung masuk sesi materi. Jam pertama DWO yang ngisi. Giliran saya jam 10.00.


Sekitar jam 09.00, saya baru sampai lokasi workshop. Habis absen dan basa-basi,  panitia mempersilahkan masuk ruangan. Agar tak mengganggu, dengan sedikit mengendap-endap, saya pilih duduk di kursi belakang agak pojok. DWO tak melihat saya datang. Dia nampak serius menjelaskan 32 poin penting Teknik Menulis Ilmiah Populer.

“Ini semua pelajaran dari Pak Bos, langsung. Aku punya catatan lengkap semua pelajaran Pak Dahlan selama bertahun-tahun. Kalau dikumpulkan, ada 20-an bloknote,” katanya beberapa hari sebelum acara.

Maklum, DWO termasuk kelompok perintis di Jawa Pos. Dia punya kesempatan menimba ilmu langsung dari Pak Bos, sejak awal masuk pada 1984. Itu dua tahun setelah Jawa Pos dibeli Tempo. Tapi saya patut bangga dan bersyukur bisa jadi sohib DWO, karena sidikit-demi sedikit kecipratan ilmu Pak Bos. Lebih bersyukur lagi manakala diseret DWO ikut nangani INDOPOS saat awal berdiri (2003). Alhamdulillah, berkesempatan menimba ilmu langsung dari Pak Bos.

Percaya tidak percaya, 32 poin Teknik Menulis “Ala Pak Bos” itu adalah intisari ratusan buku soal jurnalistik yang ada di pasar buku. Dalam catatan Perpustakaan Negara, sekarang ada 520-an buku yang mengupas soal jurnalistik dan teknik menulis. Saya pernah menyuruh DWO bertanya, berapa banyak diantara buku2 itu yang pernah dibaca Pak Bos. Itu saat saya masih jadi redaktur di INDOPOS.

Bogor, 9 Mei 2012


Jawab DWO, “Yo takono dewe tho Jo, aku ra wani (ya tanya sendiri tho Jo, saya gak berani).”

Waduh! Kalau “anak kesayangan” Pak Bos saja gak berani, apalagi saya!

Kembali ke arena workshop. Dari 32 poin itu, DWO menjelaskan 17 poin dalam dua jam pertama. Sisanya jadi tugas saya pada dua jam berikutnya. Kata DWO, dibagi “belah semangka” karena honor berdua sama tiap jamnya. Berapa? Eeem.. pokoknya cukup buat beli mobil2an untuk anakku he he he.

Sejenak mengamati suasana kelas DWO, terasa ada yang salah. Guru menulisku itu terlihat bak pesakitan di ruang sidang. Dia dicerca berbagai macam pertanyaan yang jauh melenceng dari topik. Harusnya fokus soal teknik menulis. Kok malah ngalor-ngidul ngomongin media massa. Soal manajemen beritalah, soal tajuk utamalah, soal leadlah dan lah lah yang lain. Meski berakting tenang, saya tahu DWO dirundung galau. Sebagai sohib, gelagat itu mudah terbaca.

Hingga dua jam pertama sesi pelajaran DWO, suasana tak berubah. Penulis senior idolaku itu tetap jadi bulan-bulanan. Ia harus menjawab banyak pertanyaan yang jauh dari topik pelajaran. Pertanyaannya bertendensi ingin menggali lebih jauh tentang siapa (sehebat apa) DWO.

Saya hitung, yang gencar mencerca hanya satu dua orang. Yang lain pasif, hanya jadi penonton. Makin kuamati, DWO terlihat makin galau. Saya pun ikut merasakan galau. Semua berhenti setelah panitia memberi kode, jam pelajaran DWO habis.

Begitu turun panggung, saya menghampiri DWO. Reaksi pertamanya, “Kon keturon yo? Telat iki! (kamu ketiduran ya? Telat ini!),” serunya. Ini pertanda perasaannya lagi gundah. Kalau tidak, ia pasti paham bahwa saya mengisi materi jam 10.00. Wajar kalau datang jam 09.00.

Maka, langsung saja saya tembak, “nervous ya?”. “Sumpah, kebelet nguyuh aku (sumpah, gak tahan mau kencing aku),” jawabnya sambil memegangi sabuk celana, lalu ngacir menuju kamar kecil, berlari seperti anak baru disunat.

Harusnya, jam 10.00, giliran saya mengisi materi. Namun pihak panitia menskorsing acara selama 15 menit untuk sarapan pagi. Ternyata, semua peserta belum sarapan, karena katering terlambat. Bahkan ketika masuk ruang sajian, menu sarapan juga belum lengkap. Di atas meja, yang ada hanya kue dan minuman (kopi dan teh).

Saya berbaur dengan peserta menikmati makanan yang ada. Sambil nguping, apa kesan peserta terhadap sesi pertama DWO. Ternyata parah. Mereka sangat meremehkan DWO. Mereka membandingkan kami dengan pengajar sebelumnya yang bertitel Guru Besar (Profesor) dari perguruan tinggi ternama Tanah Air.

Komentarnya membuat kuping saya merah. Hati saya membara. Sesekali terdengar ada yang memuji-muji Jawa Pos lantaran kagum dengan sosok Pak Dahlan. Tapi itu tak cukup menghibur hati.


Belum habis kopi seperempat, saya beringsut keluar ruangan. Mencari-cari DWO, yang ternyata lagi asyik menikmati sarapan di kantin. Rupanya, habis dikerjai peserta sampai mau ngompol, langsung jadi lapar.

Saya lihat ia begitu “rakus” melahap nasi soto ayam Lamongan kesukaannya. Saat saya datang, sepiring nasi sudah tinggal dua-tiga sendok. Di sebelahnya masih ada sepiring nasi lagi. Saya yakin akan nambah satu piring nasi lagi, baru stop.

TERTOLONG CERITA PAK DAHLAN

Sambil tersenyum, kutinggalkan DWO. Dua menit lagi sesi pelajaran saya. Harus buru-buru masuk kelas. Dalam hati, kubulatkan tekad untuk “balas dendam” dalam ruangan. Kusiapkan strategi, menjadikan peserta workshop layaknya “siswa” dalam pendidikan militer.

Kebetulan, dulu saya sering jadi Pelatih Diklat Resimen Mahasiswa. Menundukkan mental siswa adalah keahlian saya. Maka saat masuk, gaya berjalan pun saya buat segagah Perwira Latihan. Sepatu khas tentara jenis PDH (Pakaian Dinas Harian), sengaja saya hentakkan kuat-kuat. Hingga terdengar suara "brok brok" cukup keras. Hasilnya, peserta paling depan pun menengokkan muka melihat saya berjalan sok cool menuju panggung.

Saya yakin, sebagian besar peserta terus mengamati, saat saya menyiapkan alat presentasi sendiri. Memasang laptop dan menyambungkan dengan proyektor yang dianggurkan oleh DWO sebelumnya. Butuh waktu semenit hingga materi (sebenarnya sudah beredar dalam bentuk print) muncul di layar. Peserta melihat dan menunggu, saya cuek saja.

Begitu siap, saya ambil mic dan mengucap salam pembuka “SELAMAT PAGI!”, dengan suara keras. Hasilnya refleks, semua menjawab dengan suara keras pula. Saya tahu, mereka kaget. Semua peserta memandang saya. Kutatap mata mereka setajam-tajamnya. Lalu, dengan nada sedikit sombong, saya bilang:

“Anda semua layak berbangga, hari ini, Anda baru saja menerima ilmu dari penulis terbaik Jawa Pos sepanjang sejarah. Itu bukan kata saya. Pak Dahlan Iskan sendiri yang memberikan julukan itu. Bahkan beliau sempat bilang kepadanya, saya kalah.”

Tak perlu menunggu lama, seorang penggemar Pak Dahlan Iskan (namanya Muller Sagala), tiba-tiba bertepuk tangan. Yang lain otomatis ikut. Kemeriahan mendadak tercipta dalam kelas workshop hari itu.

Belum habis suara tepuk tangan, saya kembali bicara: “Jika Anda penyuka dunia maya, coba ketik searching di google dengan mengetik keyword: Djono W Oesman. Maka akan muncul namanya sebagai penulis buku heboh, Memoar Soebandrio. Anda tahu, buku itu tidak pernah diterbitkan oleh Gramedia, karena suatu hal. Tapi terjemahannya jadi best seller di Belanda,” kata saya. Tepuk tengan riuh pun kembali menggema.

Seperti ada Tangan yang mengatur, saya melihat DWO muncul dan masuk ke dalam ruang kelas. Lalu saya sengaja menyapanya. “Selamat datang Putra Kesayangan Pak Dahlan!” Semua peserta melihat ke belakang. Seorang diantaranya (Athep Suhana) bahkan berdiri, lalu bertepuk tangan, seolah menyambut kehadiran sosok idola yang berjalan di atas red carpet.

Ibarat pertandingan, skor kami dan para peserta jadi 1:1. DWO yang dua jam pertama seperti diremehkan, saat itu mendadak jadi idola dalam kelas. Saya sendiri akhirnya lancar mengurai penjelasan soal teknik menulis ilmiah, melanjutkan materi DWO. Sesekali saya sisipi cerita soal perilaku Pak Bos di Jawa Pos, khususnya saat awal-awal penerbitan INDOPOS.

Di sesi lanjutan, DWO pun mengajar dengan gayeng. Hingga jam pelajaran usai menjelang adzan asyar.

TERTOLONG “BAKSO NUMPLEG”

Rabu, 16 Nopember 2011, Gedung Rumah Pena, Jam 5.35. Bang Usman (BU) dan Mario (Rio), saya lihat masih sibuk mendampingi Toyo (desain Layout). Mingguan SYARIAH nyaris kelar, tinggal finishing cover. "Mas Jo, tolong bikinkan superlead cover!" pinta BU, Pimpinan Umum Tabloid Syariah. "Siaaap!" jawab saya.

Saya buka naskah laporan utama, soal peradaran daging di pasar yang disinyalir dipotong tak sesuai syariah Islam. Itu sedang disorot MUI. Sejenak saya putar otak. Lalu saya dektekan dengan suara nyaring ke Toyo. Sengaja, biar dia gak ngantuk. Gak sampai lima menit, kelar.

Sesudahnya, rasa kantuk gak bisa saya tahan. Tiga kursi saya jajar buat alas tidur. "Rio, jam enam bangunin aku ya?" pinta saya. Yunior saya ini hanya manggut2 dan tersenyum dipaksakan. Saya sendiri gak dengan Rio. Tapi rasa kantuk sudah akut. Rebahan beberapa detik, langsung terbang ke alam mimpi.

Kursi tengah alas tidur bergeser, saya terkesiap, nyaris jatuh. Lihat jam di handphone jadul, pukul enam lewat 5 menit. Sialan, Rio ngorok di kursi depan komputernya. Buru2 pergi ke kamar mandi. Gubrak-gubruk ambil peralatan mandi di jok motor yang terparkir di sebelah gedung. Turun naik 4 lantai Rumah Pena membuat nafas tersengal. Gak peduli, buru2 mandi. Cuma setengah badan karena takut telat ngajar Workshop Menulis Ilmiah Populer di Pusdiklat BPPK Pancoran.

Wah gawat, sudah jam setengah tujuh lewat. Yamaha Mio Soul saya tancap tanpa sempat dipanasi. Agak mbrebet, biar saja dipaksa berlari. Sialnya, pas jam macet2nya jalanan Ibukota. Gak ada alternatif lain, harus sabar. Meski masuk ke jalur "jalan tikus", hasilnya sama. Sampai lokasi workshop, sudah jam 8.25-an. Telat hampir setengah jam.

Panitia menyambut agak gusar. Peserta lebih2 lagi, karena konsumsi pagi juga datang terlambat. Meski gak enak, saya langsung membuka sesi pertama hari kedua. Tanpa menunggu bantuan panitia, laptop saya nyalakan. Lalu saya hubungkan dengan proyektor untuk mengaktifkan slide.

Layar terbuka. Sengaja saya tampilkan tulisan ringan yang terpajang di halaman catatan facebook berjudul "Bakso Numplek". Sengaja untuk memancing reaksi peserta. Benar saja, beberapa terlihat senyam-senyum. Saya biarkan mereka membaca sedikit tulisan tentang nostalgia masa SMA.

Wajah peserta mulai ceria. Pikir saya, itu saatnya melanjutkan materi Menulis Esai dan Opini. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Sesi praktek lebih lagi. Saya sengaja menampilkan "jurus" khusus untuk mengundang perhatian peserta. Praktek menulis dengan "permainan" sederhana.

Intinya, praktek menulis diwakili peserta. Diantara peserta saya tunjuk jadi "otak" dan "tangan". Peran "otak" memikirkan materi yang hendak ditulis. Materi didiskusikan dengan seluruh peserta, dipimpin oleh "otak". "Tangan", tugasnya menulis (naskah diketik dari laptopku yang terhubung ke slide, hingga semua peserta melihat). Itu juga dipandu oleh "otak". Khusus "otak", pemerannya berganti-ganti. Siapa yang punya ide bagus untuk isi tulisan (topiknya di sepakati bersama terlebih dulu), langsung tampil di depan, sebagai "otak".

Dengan "permainan" ini, suasana workshop jadi hidup. Seluruh peserta seolah berlomba mengungkapkan gagasan. Saat itu, mereka mengemas tulisan opini dengan tema "Gaya Hidup Mewah Wakil Rakyat". Suasana diskusi sungguh seru.

Sayang, saya tak sempat melihat akhir "permainan" itu. Bagaimana hasil tulisannya, tidak tahu. Sebab harus buru2 ke bandara. Hari itu, saya sudah booking tiket Lion Air Jakarta-Banjarmasin. Jam 15.05 takeoff. Saya tak mau ketinggalan pesawat. Ada tugas mengumpulkan data untuk buku Transmigran Sukses 2012, proyek Depnakertrans. Perkembangan acara workshop terpantau dari cerita DWO via telepon di malam harinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar