Rabu, 16 Mei 2012

ANAKKU SAYANG, ANAKKU MALANG


Ini penggalan cerita kami (saya, DWO dan Dono), setelah “lulus” dari Jawa Pos Group. Kami tetap berkarya, agar asap dapur tetap mengebul. Gak jauh-2, masih seputar dunia tulis menulis. Cerita ini hanyalah “bunga” perjuangan kami. Moga bisa dipetik hikmahnya. Salam kerja.. kerja.. kerja! ---------------------------

“Ayah, jgn lupa tgl 8 juni jam 7 pagi, aku wisuda. Kali ini saja ayah pulang sblm lebaran. Aku pengin ayah yg mendampingi. Jgn sampe tdk lho yah..”. Ini SMS anakku Senin siang. Kali ini dia sangat memohon. Nadanya mengiba. Mak nyess hatiku membacanya.

Terang saja dia memohon. Karena sudah dua kali lebaran, aku tdk bisa pulang. Janji-janji mau nyambangi, tak pernah bisa memenuhi. Entah mengapa selalu saja ada kendala. Selalu ada aral yang menghalangi niat.

Lebaran 2009, gagal mudik. Padahal rencana sudah disusun jauh2 hari. Janji ketemu teman2 sesama urban di jkt, jg sudah bulat. Tp seminggu sebelum lebaran, keributan antar teman di kantor mencapai titik kulminasi. Bak erupsi Gunung Merapi, semua impian membangun imperium, luluh lantak. Aku terdepak dari PT Sundul Langit Indonesia (perusahaan Advertising).

Demi harga diri, kutinggalkan prsh yg kubangun susah payah. Gak peduli omzetnya sudah 4 M lebih per tahun. Persetan berapa juta jatah pembagian saham 30% untukku. Aku hanya pesan, salurkan ke yayasan sosial, biar jd amal jariah. Disalurkan atau tdk, aku gak peduli. Rejeki bisa kucari lagi. Tp pas lebaran, aku kehabisan ongkos pulang mudik.

Lebaran 2010, lebih parah lagi. Selama setahun aku mencoba bangkit. Segala upaya kulakukan. Ternyata gak gampang. Sampai H-5 lebaran, aku msh kesulitan bayar zakat fitrah.

Baru pada H-3, muncul SPK neonbox Perumahan Taman Permata Jakarta. Hari itu jg dpt DP. Malam ba’da tarawih, kubayar zakat fitrah. Ketika semua orang merayakan takbiran, aku dan teman2 malah penekan (memanjat), memasang neonbox di depan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Gagal lagi rencana pulang mudik. Sekedar melepas rindu, aku hanya bisa telepon2an dengan Arief.

SMS Arief kali ini membuatku lebih stres lagi. Bukan soal biaya pulang kampung yg jd kendala. Justru usaha Publishing-ku sedang jalan bagus2nya. Sejak balik kucing di bidang jurnalistik, banyak proyek buku dan internal magazine kami tangani. Masalahnya kini soal deadline.

Bagi media, deadline adlh harga mati. Gak bisa ditunda. Tgl 15 Juni, majalah ITS XL harus selesai. Tgl 15 juga, majalah Voice of Papua (VoP) juga hrs rampung. Lantas bagaimana dengan Arief? Akankah kubiarkan anak kesayanganku itu wisuda tanpa kehadiranku? Tuhan, tunjukkan jalan terbaik bagi kami. Amin.

Ayah Tidak Bohong, Kan...?

Selasa (7/6/2011) siang, jam di ktr PT Anugerah Java Media (AJM) Group sudah menunjuk angka 16.00. Resah di hati sudah mencapai ubun2. Dono, dirut AJM masih saja nyerocos. Hari itu ia memimpin rapat pembahasan rencana penerbitan majalah Voice of Papua dan majaah Polda Metro Jaya. Anggotanya cuma aku dan DWO (Djono W Oesman). Aku dah mulai gak konsen. Tapi pembahasan terus berlanjut.

Sekitar pukul 16.05, sebuah SMS di HP-ku masuk. Kulihat dari istriku. Isinya pendek; “Ayah dah kutransfer 500 rb buat ongkos ke blt. Sisanya cari sendiri ya..” Kujawab singkat aja, “ya makasih”.

Aku sdh tak sabar lagi. “Sori, bos, aku nampaknya harus segera cabut ini. Ngurus anakku dulu,” kataku. Dono dan DWO nggak bisa mencegah. Keduanya hanya mengingatkan agar aku tak lama2 pulang kampung. “Kerjaan kita banyak lho, deadline-nya juga mepet semua,” kata DWO. “Siaap grak!” jawabku sambil mengangkat tangan tanda hormat ala militer.

Dari AJM jam sudah menunjuk angka 16.45. Kutancap gas motor Mio Soul-ku menuju stasiun Gambir. Antara yakin dan tidak, aku berusaha mengejar KA Gajayana jurusan Jakarta-Malang. Tapi sial, sampai di sana Gajayana sudah berangkat pukul 15.35. Sementara aku tiba jam 17.45. Lemaslah lututku saat bertanya ke petugas loket. Petugas cantik itu mencoba menawarkan tiket Sembrani dan Argo Angrek jurusan Jakarta-Surabaya. Tapi aku minta pikir2 dulu.

Aku telepon Mas Yusak, kakakku no 2. Anaknya (Rizal) satu pondok dengan Arief, anak barep (pertama)ku. Rizal juga diwisuda hari itu, ia lulus SMU. Arief lulus SMP. Kebetulan mereka sedang kumpul. Aku minta pertimbangan Mas Yusak. Dia beri saran agar aku tetap berangkat. Lebih baik datang terlambat dari pada tidak sama sekali. “Yang penting bisa menyenangkan hati Arief,” katanya.

Akhirnya aku putuskan naik Sembrani. Berangkat jam 18.35, telat sejam lebih. Kamis sekitar pukul 5.45, Sembrani berhenti di stasiun Cepu. Aku baru bangun dari tidur pulasku. Entah ada apa, biasanya Sembrani berhenti di sts Bojonegoro, langsung pemberhentian terakhir sts Pasar Turi, Surabaya. Menjelang masuk sts Lamongan, kereta berhenti lagi. Ini juga tidak biasa. Gak sabar, akhirnya aku memaksakan turun. Lalu naik bus menuju Blitar.

Jam 10 siang masih sampai Jombang. Bus Pelita Indah ngetem (berhenti utk nambah penumpang) lama di Pertigaan Jl. Mengkreng, Jombang. Gema musik dr pengamen jalanan sungguh berisik, mengganggu. Perempuan muda nan cantik di sampingku, tak menggoda pikiran nakalku. Aku diam. Hatiku gundah. Aku gak tau, apa yang dipikirkan Arief saat itu. Dia pasti juga resah dan sangat sedih.

Sampai di Srengat (wilayah kecamatan paling barat Kabupaten Blitar, berbatasan dg Kab. Tulungagung), adzan dhuhur bergema. Aku janji dengan Toni (sahabatku di Blitar) untuk menjemput di Pasar Pahing, Pakunden. Setelah itu dia mengantarku ke Madrasah Tsanawiyah NU, tempat sekolah Arief.

Ketika kami tiba, Arief, Rizal dan Mas Yusak menunggu di areal parkir Kantor Kecamatan Kepanjen Kidul. Arief menyambut dengan muka masam. Setelah menyalamiku, ia memelukku erat. Diam tanpa komentar. Aku menyambutnya dengan dada bergemuruh. Penuh rindu dan rasa bersalah. Tubuh Arief yang tinggi besar (tinggi 173, mirip almarhum ibunya) seolah menutup seluruh tubuhku. Ketika melepas pelukan, kulihat kilatan di matanya. Matanya berair menahan tangis.

Setelah basa-basi, dia baru cerita. Selama acara wisuda berlangsung, dia sering melihat pintu menunggu kehadiranku. Tiap ada yang masuk diteliti, “Siapa tau ayah datang. Tapi bukan...” Arief tidak melanjutkan kata-katanya. Sejenak aku sempat diam. Bingung, mau ngomong apa.

Sejurus kemudian, pembicaraan kualihkan soal hasil Ujian Negara. Dia bilang belum dirilis. “Yang penting dah lulus,” ujarnya bangga. Sementara aku gak mau mengganggu kebahagiannya. Hari ini, semua keinginannya berusaha kupenuhi. Termasuk nginap sehari. Padahal aku bingung, musti beralasan apa kepada para bos di kantor. Karena dah janji langsung pulang sore atau malam ini. Ah... apa kata nantilah

Kamis, 10 Mei 2012

GURUKU NYARIS NGOMPOL SAAT NGAJAR

Soal kemampuan jurnalistik, Pak Bos (Dahlan Iskan) dan DWO sama-sama luar biasa. Sama-sama jago nulis. Kelebihan Pak Bos, rasa Pede-nya sangat tinggi. DWO kebalikannya, suka minder. Saking mindernya, DWO pernah nyaris ngompol saat ngajar menulis di sebuah acara workshop. Tapi, ssstt..... ini rahasia lho...

Nopember 2011, DWO dan saya dapat undangan mengajar di acara Workshop Menulis Ilmiah Populer dari Departemen Keuangan RI. Dalam undangan tertulis: DWO jadi Pengajar, saya asisten Pengajar (istilah DWO, saya tukang bawa Tas Umar Bakrie-nya).


Selasa, 15 Nopember 2011, acara workshop dibuka Kepala Pusdiklat BPPK Pancoran (maaf namanya lupa. Saya hanya ingat jumlah isi amplopnya he he he. Lagian, saat pembukaan dan penutupan saya tidak ikut), tepat jam 07.00. Setelah itu, langsung masuk sesi materi. Jam pertama DWO yang ngisi. Giliran saya jam 10.00.


Sekitar jam 09.00, saya baru sampai lokasi workshop. Habis absen dan basa-basi,  panitia mempersilahkan masuk ruangan. Agar tak mengganggu, dengan sedikit mengendap-endap, saya pilih duduk di kursi belakang agak pojok. DWO tak melihat saya datang. Dia nampak serius menjelaskan 32 poin penting Teknik Menulis Ilmiah Populer.

“Ini semua pelajaran dari Pak Bos, langsung. Aku punya catatan lengkap semua pelajaran Pak Dahlan selama bertahun-tahun. Kalau dikumpulkan, ada 20-an bloknote,” katanya beberapa hari sebelum acara.

Maklum, DWO termasuk kelompok perintis di Jawa Pos. Dia punya kesempatan menimba ilmu langsung dari Pak Bos, sejak awal masuk pada 1984. Itu dua tahun setelah Jawa Pos dibeli Tempo. Tapi saya patut bangga dan bersyukur bisa jadi sohib DWO, karena sidikit-demi sedikit kecipratan ilmu Pak Bos. Lebih bersyukur lagi manakala diseret DWO ikut nangani INDOPOS saat awal berdiri (2003). Alhamdulillah, berkesempatan menimba ilmu langsung dari Pak Bos.

Percaya tidak percaya, 32 poin Teknik Menulis “Ala Pak Bos” itu adalah intisari ratusan buku soal jurnalistik yang ada di pasar buku. Dalam catatan Perpustakaan Negara, sekarang ada 520-an buku yang mengupas soal jurnalistik dan teknik menulis. Saya pernah menyuruh DWO bertanya, berapa banyak diantara buku2 itu yang pernah dibaca Pak Bos. Itu saat saya masih jadi redaktur di INDOPOS.

Bogor, 9 Mei 2012


Jawab DWO, “Yo takono dewe tho Jo, aku ra wani (ya tanya sendiri tho Jo, saya gak berani).”

Waduh! Kalau “anak kesayangan” Pak Bos saja gak berani, apalagi saya!

Kembali ke arena workshop. Dari 32 poin itu, DWO menjelaskan 17 poin dalam dua jam pertama. Sisanya jadi tugas saya pada dua jam berikutnya. Kata DWO, dibagi “belah semangka” karena honor berdua sama tiap jamnya. Berapa? Eeem.. pokoknya cukup buat beli mobil2an untuk anakku he he he.

Sejenak mengamati suasana kelas DWO, terasa ada yang salah. Guru menulisku itu terlihat bak pesakitan di ruang sidang. Dia dicerca berbagai macam pertanyaan yang jauh melenceng dari topik. Harusnya fokus soal teknik menulis. Kok malah ngalor-ngidul ngomongin media massa. Soal manajemen beritalah, soal tajuk utamalah, soal leadlah dan lah lah yang lain. Meski berakting tenang, saya tahu DWO dirundung galau. Sebagai sohib, gelagat itu mudah terbaca.

Hingga dua jam pertama sesi pelajaran DWO, suasana tak berubah. Penulis senior idolaku itu tetap jadi bulan-bulanan. Ia harus menjawab banyak pertanyaan yang jauh dari topik pelajaran. Pertanyaannya bertendensi ingin menggali lebih jauh tentang siapa (sehebat apa) DWO.

Saya hitung, yang gencar mencerca hanya satu dua orang. Yang lain pasif, hanya jadi penonton. Makin kuamati, DWO terlihat makin galau. Saya pun ikut merasakan galau. Semua berhenti setelah panitia memberi kode, jam pelajaran DWO habis.

Begitu turun panggung, saya menghampiri DWO. Reaksi pertamanya, “Kon keturon yo? Telat iki! (kamu ketiduran ya? Telat ini!),” serunya. Ini pertanda perasaannya lagi gundah. Kalau tidak, ia pasti paham bahwa saya mengisi materi jam 10.00. Wajar kalau datang jam 09.00.

Maka, langsung saja saya tembak, “nervous ya?”. “Sumpah, kebelet nguyuh aku (sumpah, gak tahan mau kencing aku),” jawabnya sambil memegangi sabuk celana, lalu ngacir menuju kamar kecil, berlari seperti anak baru disunat.

Harusnya, jam 10.00, giliran saya mengisi materi. Namun pihak panitia menskorsing acara selama 15 menit untuk sarapan pagi. Ternyata, semua peserta belum sarapan, karena katering terlambat. Bahkan ketika masuk ruang sajian, menu sarapan juga belum lengkap. Di atas meja, yang ada hanya kue dan minuman (kopi dan teh).

Saya berbaur dengan peserta menikmati makanan yang ada. Sambil nguping, apa kesan peserta terhadap sesi pertama DWO. Ternyata parah. Mereka sangat meremehkan DWO. Mereka membandingkan kami dengan pengajar sebelumnya yang bertitel Guru Besar (Profesor) dari perguruan tinggi ternama Tanah Air.

Komentarnya membuat kuping saya merah. Hati saya membara. Sesekali terdengar ada yang memuji-muji Jawa Pos lantaran kagum dengan sosok Pak Dahlan. Tapi itu tak cukup menghibur hati.


Belum habis kopi seperempat, saya beringsut keluar ruangan. Mencari-cari DWO, yang ternyata lagi asyik menikmati sarapan di kantin. Rupanya, habis dikerjai peserta sampai mau ngompol, langsung jadi lapar.

Saya lihat ia begitu “rakus” melahap nasi soto ayam Lamongan kesukaannya. Saat saya datang, sepiring nasi sudah tinggal dua-tiga sendok. Di sebelahnya masih ada sepiring nasi lagi. Saya yakin akan nambah satu piring nasi lagi, baru stop.

TERTOLONG CERITA PAK DAHLAN

Sambil tersenyum, kutinggalkan DWO. Dua menit lagi sesi pelajaran saya. Harus buru-buru masuk kelas. Dalam hati, kubulatkan tekad untuk “balas dendam” dalam ruangan. Kusiapkan strategi, menjadikan peserta workshop layaknya “siswa” dalam pendidikan militer.

Kebetulan, dulu saya sering jadi Pelatih Diklat Resimen Mahasiswa. Menundukkan mental siswa adalah keahlian saya. Maka saat masuk, gaya berjalan pun saya buat segagah Perwira Latihan. Sepatu khas tentara jenis PDH (Pakaian Dinas Harian), sengaja saya hentakkan kuat-kuat. Hingga terdengar suara "brok brok" cukup keras. Hasilnya, peserta paling depan pun menengokkan muka melihat saya berjalan sok cool menuju panggung.

Saya yakin, sebagian besar peserta terus mengamati, saat saya menyiapkan alat presentasi sendiri. Memasang laptop dan menyambungkan dengan proyektor yang dianggurkan oleh DWO sebelumnya. Butuh waktu semenit hingga materi (sebenarnya sudah beredar dalam bentuk print) muncul di layar. Peserta melihat dan menunggu, saya cuek saja.

Begitu siap, saya ambil mic dan mengucap salam pembuka “SELAMAT PAGI!”, dengan suara keras. Hasilnya refleks, semua menjawab dengan suara keras pula. Saya tahu, mereka kaget. Semua peserta memandang saya. Kutatap mata mereka setajam-tajamnya. Lalu, dengan nada sedikit sombong, saya bilang:

“Anda semua layak berbangga, hari ini, Anda baru saja menerima ilmu dari penulis terbaik Jawa Pos sepanjang sejarah. Itu bukan kata saya. Pak Dahlan Iskan sendiri yang memberikan julukan itu. Bahkan beliau sempat bilang kepadanya, saya kalah.”

Tak perlu menunggu lama, seorang penggemar Pak Dahlan Iskan (namanya Muller Sagala), tiba-tiba bertepuk tangan. Yang lain otomatis ikut. Kemeriahan mendadak tercipta dalam kelas workshop hari itu.

Belum habis suara tepuk tangan, saya kembali bicara: “Jika Anda penyuka dunia maya, coba ketik searching di google dengan mengetik keyword: Djono W Oesman. Maka akan muncul namanya sebagai penulis buku heboh, Memoar Soebandrio. Anda tahu, buku itu tidak pernah diterbitkan oleh Gramedia, karena suatu hal. Tapi terjemahannya jadi best seller di Belanda,” kata saya. Tepuk tengan riuh pun kembali menggema.

Seperti ada Tangan yang mengatur, saya melihat DWO muncul dan masuk ke dalam ruang kelas. Lalu saya sengaja menyapanya. “Selamat datang Putra Kesayangan Pak Dahlan!” Semua peserta melihat ke belakang. Seorang diantaranya (Athep Suhana) bahkan berdiri, lalu bertepuk tangan, seolah menyambut kehadiran sosok idola yang berjalan di atas red carpet.

Ibarat pertandingan, skor kami dan para peserta jadi 1:1. DWO yang dua jam pertama seperti diremehkan, saat itu mendadak jadi idola dalam kelas. Saya sendiri akhirnya lancar mengurai penjelasan soal teknik menulis ilmiah, melanjutkan materi DWO. Sesekali saya sisipi cerita soal perilaku Pak Bos di Jawa Pos, khususnya saat awal-awal penerbitan INDOPOS.

Di sesi lanjutan, DWO pun mengajar dengan gayeng. Hingga jam pelajaran usai menjelang adzan asyar.

TERTOLONG “BAKSO NUMPLEG”

Rabu, 16 Nopember 2011, Gedung Rumah Pena, Jam 5.35. Bang Usman (BU) dan Mario (Rio), saya lihat masih sibuk mendampingi Toyo (desain Layout). Mingguan SYARIAH nyaris kelar, tinggal finishing cover. "Mas Jo, tolong bikinkan superlead cover!" pinta BU, Pimpinan Umum Tabloid Syariah. "Siaaap!" jawab saya.

Saya buka naskah laporan utama, soal peradaran daging di pasar yang disinyalir dipotong tak sesuai syariah Islam. Itu sedang disorot MUI. Sejenak saya putar otak. Lalu saya dektekan dengan suara nyaring ke Toyo. Sengaja, biar dia gak ngantuk. Gak sampai lima menit, kelar.

Sesudahnya, rasa kantuk gak bisa saya tahan. Tiga kursi saya jajar buat alas tidur. "Rio, jam enam bangunin aku ya?" pinta saya. Yunior saya ini hanya manggut2 dan tersenyum dipaksakan. Saya sendiri gak dengan Rio. Tapi rasa kantuk sudah akut. Rebahan beberapa detik, langsung terbang ke alam mimpi.

Kursi tengah alas tidur bergeser, saya terkesiap, nyaris jatuh. Lihat jam di handphone jadul, pukul enam lewat 5 menit. Sialan, Rio ngorok di kursi depan komputernya. Buru2 pergi ke kamar mandi. Gubrak-gubruk ambil peralatan mandi di jok motor yang terparkir di sebelah gedung. Turun naik 4 lantai Rumah Pena membuat nafas tersengal. Gak peduli, buru2 mandi. Cuma setengah badan karena takut telat ngajar Workshop Menulis Ilmiah Populer di Pusdiklat BPPK Pancoran.

Wah gawat, sudah jam setengah tujuh lewat. Yamaha Mio Soul saya tancap tanpa sempat dipanasi. Agak mbrebet, biar saja dipaksa berlari. Sialnya, pas jam macet2nya jalanan Ibukota. Gak ada alternatif lain, harus sabar. Meski masuk ke jalur "jalan tikus", hasilnya sama. Sampai lokasi workshop, sudah jam 8.25-an. Telat hampir setengah jam.

Panitia menyambut agak gusar. Peserta lebih2 lagi, karena konsumsi pagi juga datang terlambat. Meski gak enak, saya langsung membuka sesi pertama hari kedua. Tanpa menunggu bantuan panitia, laptop saya nyalakan. Lalu saya hubungkan dengan proyektor untuk mengaktifkan slide.

Layar terbuka. Sengaja saya tampilkan tulisan ringan yang terpajang di halaman catatan facebook berjudul "Bakso Numplek". Sengaja untuk memancing reaksi peserta. Benar saja, beberapa terlihat senyam-senyum. Saya biarkan mereka membaca sedikit tulisan tentang nostalgia masa SMA.

Wajah peserta mulai ceria. Pikir saya, itu saatnya melanjutkan materi Menulis Esai dan Opini. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Sesi praktek lebih lagi. Saya sengaja menampilkan "jurus" khusus untuk mengundang perhatian peserta. Praktek menulis dengan "permainan" sederhana.

Intinya, praktek menulis diwakili peserta. Diantara peserta saya tunjuk jadi "otak" dan "tangan". Peran "otak" memikirkan materi yang hendak ditulis. Materi didiskusikan dengan seluruh peserta, dipimpin oleh "otak". "Tangan", tugasnya menulis (naskah diketik dari laptopku yang terhubung ke slide, hingga semua peserta melihat). Itu juga dipandu oleh "otak". Khusus "otak", pemerannya berganti-ganti. Siapa yang punya ide bagus untuk isi tulisan (topiknya di sepakati bersama terlebih dulu), langsung tampil di depan, sebagai "otak".

Dengan "permainan" ini, suasana workshop jadi hidup. Seluruh peserta seolah berlomba mengungkapkan gagasan. Saat itu, mereka mengemas tulisan opini dengan tema "Gaya Hidup Mewah Wakil Rakyat". Suasana diskusi sungguh seru.

Sayang, saya tak sempat melihat akhir "permainan" itu. Bagaimana hasil tulisannya, tidak tahu. Sebab harus buru2 ke bandara. Hari itu, saya sudah booking tiket Lion Air Jakarta-Banjarmasin. Jam 15.05 takeoff. Saya tak mau ketinggalan pesawat. Ada tugas mengumpulkan data untuk buku Transmigran Sukses 2012, proyek Depnakertrans. Perkembangan acara workshop terpantau dari cerita DWO via telepon di malam harinya.

Selasa, 03 Januari 2012

Prof. KH Said Aqil Siradj: Koruptor Mati, Gak Perlu Disholatkan



Menurut KH Said Aqil Siradj, warga NU tidak perlu ikut menyolatkan jenazah seorang koruptor. Sebab sama dengan mendoakan agar kesalahannya dimaafkan, dosa-dosa diampuni. Keenakan sekali!

JAUH sebelum proklamasi kemerdekaan negara Indonesia, para tokoh Nahdlatul Ulama (NU) telah sepakat mendukung berdirinya negara “Darus Salam”. Maksudnya adalah “Negara yang Damai”.
      “Bukan Darul Islam, atau Negara Islam,” tegas Prof DR KH Said Aqil Siradj, saat ditemui di Kantor PBNU Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (31/12) lalu.
     Lalu, setelah dibentuk tim Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), para tokoh perintis kemerderkaan Indonesia juga sepakat membentuk negara berdasar azas kebangsaan. Dan bukan negara agama.
       Nah, bagaimana kelompok muslim yang jumlahnya lebih dari total 90 penduduk Indonesia (mayoritas) ini harus bersikap terhadap anggota kelompok beragama  yang lain?
        Berikut kutipan pendapatnya:

Sebagai bangsa dengan beragam agama dan keyakinan, kayaknya terus diuji dengan berbagai benturan antar umat. Menurut Anda, bagaimana sebaiknya sikap kita?
Indonesia ini negara unik. Terdiri dari 17.000 pulau lebih. 400 suku bangsa lebih. Dan, enam agama resmi, belum lagi dengan agama lokal. Artinya, bangsa ini sudah ditakdirkan oleh Allah SWT menjadi bangsa majemuk.
Untuk  itu, seluruh komponen bangsa, harus menyikapinya dengan cermat, pandai, dan tulus. Agar tercipta Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur, maksudnya, negeri yang subur dan makmur, adil dan aman.
Masing-masing elemen harus mengorbankan sedikit kepentingannya untuk kepentingan bangsa. Jika masing-masing elemen mengedepankan kepentingan kelompoknya, etniknya, atau agamanya, negara ini pasti akan hancur.

Apa sikap Nahdlatul Ulama (NU) tempo dulu terhadap negara majemuk ini?
 Sembilan tahun sebelum merdeka, Nahdlatul Ulama(NU) memutuskan, nanti jika negara ini merdeka dari penjajahan Belanda, ingin mendirikan negara “darus salam”, maksudnya negara yang damai. Bukan menjadi “darul Islam, maksudnya negara Islam.
Lalu, saat tim PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang diketuai oleh Sukarno dan  wakilnya Muhammad Hatta, anggotanya adalah Kyai Agus Salim, Wahid Hasyim (Bapaknya Gus Dur), semua tokoh PPKI sepakat, Indonesia menjadi negara kebangsaan. Bukan negara agama. Dan, juga bukan negara etnik.
Untuk pembangunan ke depan. Bangsa ini harus terus menerus berpedoman pada asas kebangsaan.  

Apa dasar pemikiran tokoh NU menginginkan Indonesia menjadi negara kebangsaan?
Keputusan untuk menjadi negara kebangsaan oleh para bapak bangsa dan juga tokoh NU waktu itu, tentu bukan asal-asalan atau bagaimana. Tapi berdasar pada alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ketika Nabi Muhammad SAW membangun negara Madinah, beliau tidak  mendirikan negara agama. Juga tidak negara etnik. Tapi, negara Madinah. Apa artinya? yaitu negara beradab. Negara yang menjungjung tinggi nilai kesamaan hukum, berakhlak, dan berdasar keadilan.
Di Madinah, terdapat orang Islam dari mekkah, yang dikenal dengan sebutan kaum Muhajirin. Muslim di madinah, dikenal sebagai kaum Anshor. Dan non muslim dari kalangan Yahudi, yaitu Bani Qainuqa. Semuanya hidup berdampingan di Madinah. Dari situ, artinya Nabi telah berhasil mendirikan negara lintas agama, dan lintas etnik.
Harus diingat, bahwa itu sudah terjadi 14 abad yang lalu. Jauh sebelum adanya PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa).

Soal perlakuan hukum, bagaimana sikap Nabi Muhammad SAW waktu itu?
“Wa kadzalika ja’alnaakum ummatan washatan litakuunu syuhadaa’a ‘alannasi wayakuna ar-rasululu ‘alaikum syahiidan”. Artinya Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.
Sesuai ayat tersebut, pernah suatu ketika Nabi Muhammad menangani kasus pencurian. Keluarga si pencuri, melalui perantara seorang sahabat Usamah bin Zaid, sempat meminta kepada Nabi agar dibebaskan dari semua kesalahan.
Lalu, Nabi malah mengatakan, seandainya yang mencuri itu anak saya, Fatimah, saya akan potong tangannya.
Dari kasus tersebut terlihat jelas keadilan yang dijunjung oleh Nabi.
Saat lain, Nabi muhammad juga berkata, tidak boleh ada permusuhan. Kita tidak boleh menganggap musuh orang lain, siapa pun itu. Kecuali orang dholim. Jika melanggar hukum, apakah itu muslim, non muslim, madzhab beda, suku beda, harus diperlakukan sama.
Nabi juga sangat menjunjung tinggi peradaban. Pernah suatu ketika ada orang Islam yang membunuh orang Yahudi (saat itu orang Islam yang salah).  
Nabi lantas mengatakan: barangsiapa yang membunuh non muslim, berhadapan dengan saya. Dan barang siapa berurusan dengan saya, tidak masuk surga.
Itu sungguh luar biasa, sikap yang ditunjukkan Nabi Muhammad.
Sikap tersebut, coba diteruskan oleh Khalifah Umar RA. Saat itu, Palestina menjadi negara bagian Islam. Di sana terdapat orang Yahudi dan Kristen. Berbeda ketika di Madinah, tidak ada orang nasrani. Yang ada hanya orang Yahudi.
Saat itu, Umar berkata dalam sebuah perjanjian. Tidak pandang bulu di depan hukum, orang menganut agama apa, semua hidup dengan bebas. Yang benar harus dilindungi, dan yang salah harus dihukum. Sesuai hukum yang berlaku.

Konsep jihad ala Nabi itu seperti apa? Dan bagaimana Nabi melindungi kaum minoritas?
Dalam kitab kuning “Fathul Muin”, yang dimaksud jihad, diantaranya mempertahankan hak kita, dan memberi perlindungan bagi warga negara yang baik, bukan penjahat. Baik orang Islam, Katolik, Protestan, budha, Hindu, dan Konghucu.
Asalkan dia benar, kita perlu membela. Meski haji, NU, kyai jika melanggar hukum harus ditindak secara adil.
Melindungi kaum minoritas itu salah satu ikhtiar jihad. Asalkan minoritas tersebut tidak melanggar hukum. Bukan sebaliknya, minoritas kita habisin. Tanpa alasan yang jelas, sesuai hukum yang berlaku.

Apa makna pancasila menurut anda?
Terkait pancasila, itu baik aja, malahan sesuai dengan nilai yang ada dalam Islam. Misal ayat pertama “ketuhanan yang maha esa”. Itu sesuai dengan surat Al Ikhlas “qul huwallahu ahad”.
Ada lagi, keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Lalu, kemanusiaan yang adil dan beradab. Persatuan indonesia. Intinya, nilai Pancasila tersebut sesuai dengan nilai dalam ajaran Islam.
Pancasila menjadi dasar negara. Untuk memperkuat nilai-nilai Pancasila, perlu diisi dengan nilai dalam ajaran Islam. Karena Pancasila tidak bertentangan dengan nilai Islam.
Ini menurut faham kita (NU, red). Untuk faham lain, jika beda monggo (silahkan, red). Tapi tetap harus sesuai dengan nilai Pancasila.

Apa langkah konkritnya?
Untuk itu, saat berdakwah, jangan hanya ngomong atau dakwah bil qouli, juga perlu dakwah bil hal, artinya dakwah dengan tindakan. Saat ini (saat wawancara, Red), kita baru melakukan dakwah bil qoul.
Kalau para bankir, yang menegakkan muamalat Islam, itu namanya dakwah bil hal. Sama halnya juga bagi praktisi lain yang menerapkan ajaran Islam di lapangan. NU, juga melakukan dakwah bil hal. Misalnya, NU mengelola sekolah, Universitas NU, dan juga usaha lain yang dilakukan NU.

Bagaimana sikap NU terkait persaudaraan dengan komponen masyarakat yang lain?
Dalam kehidupan berbangsa, perlu kita isi dengan nilai dasar Islam. Seperti pendidikan Islam, kemanusiaan, nilai-nilai luhur, saling menghormati, menjalin persahabatan dengan sesama.
Terkait ukhuwah, sesuai dengan prinsip dalam NU, yaitu terdapat ukhuwah islamiyah, maksudnya persaudaraan sesama kaum muslim, ukhuwah wathaniyah, maksudnya persaudaraan sesama warga bangsa, dan ukhuwah basyariyah, maksudnya persaudaraan atas dasar sesama manusia.
NU, dari dulu hingga sekarang menerapkan hal itu. Jika hal itu dilaksanakan, Indonesia akan langgeng sampai kiamat, Amin.

Apa sikap Anda terhadap radikalisme?
Akhir-akhir ini, bahaya Islam radikal terus menunjukkan ancamannya di tengah masyarakat. Islam radikal disebut sebagai salah satu cikal bakal munculnya aksi terorisme, yang saat ini sudah ditetapkan sebagai musuh bersama bangsa Indonesia.
Untuk itu, perlu pengawasan yang  lebih intens terhadap gejala tumbuhnya benih Islam radikal di lingkungan. Juga segala bentuk kekerasan untuk mengatasi persoalam, diminta agar dihindari. Sebaiknya selesaikan dengan pendekatan persuasif, seusai aturan hukum yang berlaku.
Benih Islam radikal yang tumbuh di lingkungan kampus, dianggap sebagai bentuk terorisme teologi.  Untuk mengatasinya, perlu mengedepankan cara-cara pembinaan secara tepat.

Bagaimana eksistensi NU saat Orde baru?
Bangsa kita baru saja melaksanakan reformasi. Baru saja terbebas dari era diktator, yang dipimpin Suharto. Dimana saat itu dikuasai oleh Partai Golkar dan Angkatan Darat (maksudnya: ABRI, Red)
Saat ini, proses reformasi masih berjalan. Jika masih ada kekurangan, ya maklum, namanya juga proses. Tidak bisa langsung sempurna.
Saat Orde Baru, potensi yang dimiliki oleh umat Islam saat itu tidak diberdayakan sama sekali. Organisasi Islam dikebiri. Pemerintah menganak emaskan GOLKAR dan  Angkatan Darat. Dan, menganaktirikan organisasi Islam, termasuk NU.

Kalau sekarang?
Saat reformasi sekarang, organisasi Islam baru bisa mengembangkan kemampuannya. Misal NU, Muhammadiyah, PERSIS, dan lainnya.
Untuk NU sendiri, saat ini, ternyata orang NU sudah banyak yang duduk di jabatan strategis dalam pemerintahan. Misalnya pak Muhammad Nuh (Menteri Pendidikan), Muhaimin Iskandar (Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi), Suryadarma Ali (Menteri Agama), serta Djan Faridz (Menteri Perumahan Rakyat).
Saat orde baru, orang NU yang duduk dalam jabatan strategis itu mustahil. Jadinya, orang NU saat itu, hanya bisa berdoa atau melakukan tahlil saja. Ternyata setelah ada kebebasan, orang NU terbukti mampu memegang jabatan strategis.

Terkait kekerasan di Indonesia bagaimana sikap Anda?
Apapun kasus itu, yang terkait kekerasan, dilakukan oleh siapa pun, dengan nama apa pun, terhadap siapa pun, dan dengan alasan apapun, Laa ikroha fiddin”. Maksudnya, tidak boleh ada pemaksaan (kekerasan) dalam agama. Maknanya bisa juga dibalik, Laa dina ikroha”. Artinya, tidak mungkin sebuah agama melakukan kekerasan.
Jika orang melakukan kekerasan, misal, ada orang ngamuk, melakukan aksi pembakaran di suatu tempat, itu bukan sedang melakukan perintah agama. Namun, hanya mengikuti hawa nafsu. Hawa nafsu itu berasal dari syaitan.

Tentang kasus Syiah di Sampang, bagaimana?
Saya menduga ada desain besar di balik aksi pembakaran pesantren penganut Syiah di Sampang, Madura. Dari itu, Pemerintah dan aparat keamanan diminta bekerja lebih keras, mencegah aksi serupa terulang di kemudian hari.
Kondisi hubungan Sunni-Syiah di Indonesia, sebelumnya berlangsung damai. Aksi pembakaran pesantren Syiah diduga dilakukan sekelompok orang untuk merusak kondisi damai di negeri ini.

Himbauan anda terkait kasus tersebut?
Saya meminta semua pihak bisa menahan diri untuk tidak melakukan tindakan anarkis. Pihak ketiga selalu melancarkan provokasi supaya konflik terus terjadi. Dan, bukan tidak mungkin kasus serupa akan terjadi di kemudian hari
Saya sudah tahu, siapa dibalik peristiwa tersebut. Namun, jika saya katakan. Nanti dikatakan fitnah. Jika saya saja sudah tahu, polisi dan Pemerintah harusnya lebih tahu. Mereka harus bekerja lebih keras mengatasi permasalahan ini.
Saya meminta semua pihak bisa menahan diri, sehingga Islam benar-benar jadi rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam) benar-benar bisa diwujudkan.  

Pendapat Anda tentang FPI bagaimana?
Front Pembela Islam (FPI) itu pimpinannya benar, yaitu Habib Rizieq. Mereka Ingin menegakkan ‘amar ma’ruf nahi munkar. Sesuai dengan ajran Islam. Nahi munkar misal melarang perjudian, zina, serta minum minuman keras.
Itu sangat baik. Menurut saya yang salah, yaitu proses rekrutmen anggotanya yang tak selektif. Hingga berakibat buruk di kemudian hari.
Aksi FPI terkesan aksi preman yang memakai baju koko. Kalau habib riziknya itu alim. Tapi, kalau dilihat dari FPInya terkesan kasar. Mereka memecahkan lampu, merusak bangunan, meja, dan peralatan lain. Meja, tembok, lampu itu apa salahnya.
Jika orangnya yang melakukan maksiat, jangan merusak bangunannya, juga jangan main hakim sendiri. Serahkan kasus tersebut kepada pihak kepolisian. Biar kepolisian yang menangani kasus tersebut.
Ada dalil yang mengatakan, barangsiapa menegakkan kebaikan hendaknya dengan cara yang baik pula.

Bagaimana sebaiknya?
Nabi Muhamad 16 tahun berada di Mekah. Saat di Mekah, di sana masih ada 350 berhala di sekitar Ka’bah. Meski begitu, Nabi tidak serta merta menghancurkan berhala-berhala tersebut.
Kemudian, saat fathu Makah (penaklukan kota Mekah), Nabi mengampuni semua penduduk Mekah.
Sungguh tindakan yang hebat yang dilakukan Nabi. Saat itu, penduduk Mekah akhirnya berbondong-bondong masuk Islam. “Idzaa jaa anashrullahi wal fath. Waraitan naasayadh khuluuna fii dinillaahi afwaaja.
Setelah semua orang Mekah masuk Islam, baru mereka dengan kesadaran sendiri menghancurkan berhala di sekitar ka’bah.
Terkait cerita nabi di atas, di Jakarta, penyakit kemungkaran akan hilang sendiri. Misal minuman keras, judi, dan zina. Jika penduduknya sudah menerima Islam dengan sepenuh hati. Tidak hanya Islam KTP.
Misal untuk diri kita. Kita melaksanakan solat dan puasa ramadhan. Itu siapa yang mengarahkan? Bukankah atas kesadaran diri sendiri. Kita tidak melulu di suruh oleh orang lain.
Contoh saya sediri misalnya. Tidak melakukan zina, tidak minum minuman keras, berdasar pada kesadaran sendiri untuk melakukan hal itu.

Bagaimana sikap NU terhadap korupsi?
NU akan mendukung penuh aparat penegak hukum untuk membuka dan membongkar kasus korupsi. Korupsi adalah tindakan yang sangat bertentangan dengan semangat reformasi.
NU juga sebagai pengawal moral, etika, dan jatidiri. NU sangat memiliki kepentingan untuk menegaskan kembali gerakan anti korupsi.
Terkait korupsi, sudah diputuskan dalam Muktamar NU ke-30 dan Munas Alim Ulama 2002, bahwa korupsi merupakan pelanggaran berat terhadap amanat rakyat.
Korupsi termasuk fasad fil ardh, maksudnya tindakan membuat kerusakan di bumi. Jika melakukan kerusakan di atas bumi, harusnya dibasmi.
Saya sepakat dalam korupsi ada dua definisi. Ada korupsi yang merugikan negara dan ada yang membangkrutkan negara.
Untuk korupsi 1 atau 2 milyar, masuk kategori merugikan. Hukumannya sewajarnya, sesuai aturan hukum yang berlaku. Namun jika sudah korupsi ratusan milyar, bahkan triliyunan, itu namanya fasad fil ardh. Harus dihukum berat.

Langkah konkritnya bagaimana?
Sesuai  Hasil muktamar, para ulama NU sepakat, orang-orang NU tidak perlu menyolatkan seorang koruptor yang meniggal dunia. Karena saat kita sholat jenazah, kan kita membaca: Allahumma fir lahu war hamhu wa ’afihi wa’fu anhu. Artinya, ya Allah ampunilah dia, kasihanilah dia dan maafkanlah dia.
Jika seperti itu, keenakan buat koruptor tersebut.

Bagaimana pendapat Anda soal penegakan hukum?
Penegakan hukum di Indonesia belum adil, masih tebang pilih dan cenderung menyentuh kelompok lemah ekonomi dan kekuasaan. ini sangat ironis.
Kita tercengang melihat ada anak yang mencuri sandal dihukum 5 tahun. Sedangkan, yang korupsi uang negara miliaran, hanya dihukum 2 tahun. Ini sangat melukai rasa keadilan bagi kita.
Pelanggaran HAM juga masih marak. Misalnya kasus kekerasan di Mesuji  dan yang terakhir di Bima, Nusa Tenggara Barat. Ini kejadian yang sangat memukul masyarakat secara luas.
Selain itu, kasus pelanggaran HAM di masa lalu juga masih mengambang. Intoleransi atas nama agama, serta kekerasan dan ketidakadilan di Papua, menjadi PR yang harus dituntaskan sesegera mungkin oleh aparat.*