Selasa, 03 Januari 2012

Tertolong "Bakso Numplek"...

Rabu, 16 Nopember 2011, Gedung Rumah Pena, Jam 5.35. Bang Usman (BU) dan Mario (Rio), kulihat masih sibuk mendampingi Toyo (desain Layout). Mingguan SYARIAH nyaris kelar, tinggal finishing cover. "Mas Jo, tolong bikinkan superlead cover!" pinta BU. "Siaaap!" jawabku.
  
KUBUKA naskah laporan utama, soal peradaran daging di pasar yang disinyalir dipotong tak sesuai syariah Islam. Itu sedang disorot MUI. Sejenak kuputar otak. Lalu kudektekan dengan suara nyaring ke Toyo. Sengaja, biar dia gak ngantuk. Gak sampai lima menit, kelar.

    Sesudahnya, rasa kantuk gak bisa kutahan. Tiga kursi kujajar buat alas tidur. "Rio, jam enam bangunin aku ya?" pintaku. Dia hanya manggut2 dan tersenyum dipaksakan. Aku sendiri gak yakin. Tapi rasa kantukku sudah akut. Aku lalu rebahan. Beberapa detik kemudian sudah terbang ke alam mimpi.
  
    Kursi tengah alas tidurku bergeser. Aku terkesiap, nyaris jatuh. Kulihat jam di handphone jadulku. Jam enam lewat 5 menit. Sialan, Rio ngorok di kursi depan komputernya. Buru2 aku ke kamar mandi. Gubrak-gubruk ambil peralatan mandi di jok motor yang kuparkir di sebelah gedung. Turun naik 4 lantai Rumah Pena membuat nafasku tersengal. Gak peduli, aku buru2 mandi. Cuma setengah badan karena takut telat ngajar Workshop Menulis Ilmiah Populer di Pusdiklat BPPK Pancoran.

   Wah gawat, sudah jam setengah tujuh lewat. Yamaha Mio Soul-ku, kutancap tanpa sempat dipanasi. Agak mbrebet, kupaksa berlari. Sialnya, itu jam macet2nya jalanan Ibukota. Gak ada alternatif lain, harus sabar. Meski masuk ke jalur "jalan tikus", hasilnya sama. Sampai lokasi workshop, sudah jam 8.25-an. Telat hampir setengah jam.

    Panitia menyambutku agak gusar.  Peserta lebih2 lagi, karena konsumsi pagi juga datang terlambat. Meski gak enak, aku langsung membuka sesi pertama hari kedua. Tanpa menunggu bantuan panitia, laptop kunyalakan. Lalu kuhubungkan dengan proyektor untuk mengaktifkan slide. Layar terbuka. Lalu kutampilkan naskah artikel berjudul "Bakso Numplek". Sengaja untuk memancing reaksi peserta.

   Benar saja, beberapa kulihat senyam-senyum. Kubiarkan mereka membaca sedikit tulisan tentang nostalgia masa SMA. Kulirik wajah peserta, banyak yang mulai ceria. Kupikir, itu saatnya melanjutkan materi Menulis Esai dan  Opini. Alhamdulillah, semua berjalan lancar.

   Sesi praktek lebih lagi. Aku sengaja menampilkan "jurus" khusus untuk mengundang perhatian peserta. Praktek dilakukan dengan "permainan" sederhana. Intinya, praktek menulis diwakili peserta.

   Kutunjuk diantaranya jadi "otak" dan "tangan". Peran "otak" memikirkan materi yang hendak ditulis. Materi didiskusikan dengan seluruh peserta, dipimpin oleh "otak". "Tangan", tugasnya menulis (naskah diketik dari laptopku yang terhubung ke slide, hingga semua peserta melihat). Itu juga dipandu oleh "otak". Khusus "otak", pemerannya berganti-ganti. Siapa yang punya ide bagus untuk isi tulisan (topiknya di sepakati bersama terlebih dulu), langsung tampil di depan, sebagai "otak".

    Dengan "permainan" ini, suasana workshop jadi hidup. Seluruh peserta seolah berlomba mengungkapkan gagasan. Saat itu, mereka mengemas tulisan opini dengan tema "Gaya Hidup Mewah Wakil Rakyat".

    Suasana diskusi sungguh seru. Sayang, aku tak sempat melihat bagaimana akhir "permainan" itu. Bagaimana hasil tulisannya, aku belum tahu. Sebab harus buru2 ke bandara. Hari itu, aku sudah booking tiket Lion Air Jakarta-Banjarmasin. Jam 15.05 takeoff. Aku tak mau ketinggalan pesawat. Maka, maafkan daku kawan2 peserta workshop. Bukannya gak cinta.... salam sukses selalu!

Jakarta, 17 November 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar